Kalender Jawa Terlengkap Beserta Penjelasan dan Urutan Bulan Islam

Kalender Jawa

Kalender Jawa merupakan sebuah sistem penanggalan, yang dulunya sudah digunakan oleh Kesultanan Raja Mataram dan berbagai kerajaan lainya. Penanggalan jawa ini memiliki keistimewaan yang berbeda dengan yang lain.

karena penanggalan ini memiliki system pemaduan penanggalan antara penanggalan Islam, Hindu, dan penanggalan Julian yang merupakan penanggalan budaya Barat.

Kalender Jawa menunjukkan perputaran hidup antara manusia dengan hidup yang sudah diberikan oleh Allah Swt, yakni sang pencipta Jagat Raya, Tuhan Yang Maha Kuasa. Berikut saya akan membahas sistem penanggalan kalender Jawa.

Pengertian Kalender Jawa

Kalender Jawa merupakan sebuah sistem penanggalan yang dulunya sudah digunakan oleh Kesultanan Raja Mataram dan kerajaan-kerajaan lainya.

Kalender Jawa ini system yang dipakai yakni dengan memadukan berbagai macam sistem penanggalan, diantaranya sistem penanggalan Islam, Hindu dan sistem penanggalan Julian yakni penanggala adat budaya barat.

Dasar Perhitungan Kalender Jawa

Kalender Jawa memiliki dua siklus hari, diantaranya siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Senin sampai dengan Ahad) dan siklus pekan pancawara yang terdiri lima hari pasaran diantaranya adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Sejarah Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa pertama kali terbitkan oleh mPu Hubayun, di tahun 911 SM.

Dan pada tahun 50 SM, Prabu Sri Mahapunggung I, atau dulunya dikenal dengan Ki Ajar Padang I. Dialah yang melakukan sebuah perubahan terhadap huruf aksara, dan sastra Jawa.

Jika pada kalender Jawa ini buat berdasarkan dengan “Sangkan Paraning Bawana” atau asal usul isi semesta, maka untuk aksara Jawa dibuat pula berdasarkan dengan “Sangkan Paraning Dumadi” yakni asal usul dalam sebuah kehidupan, dan juga mengikuti peredaran matahari.

Tanggalan Hijriyah

Kalender satu

Kalender 2

Kalender 3

Kalender 4

Tanggal-tanggal penting Kalender Islam di tahun 2020

kalender hijriyah 5

kalender hijriyah 6

kalender hijriyah 7

Download

Siklus Hari Dalam Penanggalan Jawa

Dalam budaya Jawa, sistem siklus hari ada beragam. Jaman dahulu orang Jawa kuno mengenalnya dengan 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya ada satu hari, dan Seminggu yang jumlah harinya ada 10 hari.

Nama-nama dari minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.

Pekan yang terdiri dari lima hari, yang biasa dsebutnya dengan pasar oleh orang jawa dan terdiri dari hari:

Hari Pasaran Lima

Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan:

  • Kliwon (Asih) melambangkan jumeneng atau berdiri
  • Legi (Manis) berbalik arah kebelakang atau melambangkan mungkur.
  • Pahing (Pahit) melambangkan madep atau menghadap.
  • Pon (Petak) melambangkan sare atau tidur.
  • Wage (Cemeng) melambangkan lenggah atau duduk.

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari, yakni yang dikenal di budaya-budaya lain, yang memiliki siklus yang terdiri dari 30 pekan. Setiap pekan disebutnya dengan satu wuku atau setelah 30 wuku maka akan muncul siklus baru.

Siklus ini total berjumlah ada 210 hari, dan kemungkinannya hari dari pekan terdiri dari 7, 6 dan 5 hari bertemu.

Untuk lebih jelasnya coba lihat perumusan tata penanggalan Jawa dibawah ini.

  • Perhitungan hari siklus 5 harian disebutnya ddengan Pancawara – Pasaran .
  • Perhitungan hari siklus 6 harian disebutnya dengan Sadwara – Paringkelan.
  • Perhitungan hari siklus 7 harian disebutnya dengan Saptawara – Padinan.
  • Perhitungan hari siklus 8 harian disebutnya dengan Hastawara – Padewan.
  • Perhitungan hari siklus 9 harian disebutnya dengan Sangawara – Padangon.
  • Perhitungan hari siklus mingguan (7 hari) yang terdiri dari 30 minggu dan disebutnya dengan Wuku.

Hari

Masyarakat Jawa sudah mempercayainya bahwa hitungan 7 hari dalam waktu seminggu, adalah awal bermulanya Tuhan menciptakan alam semesta dengan 7 tahap. Yang dimana tahap pertama diawali hari Radite (Minggu).

  • Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI.
  • Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN.
  • Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API.
  • Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI.
  • Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN.
  • Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG.
  • Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi yang kasar dan menjadikan sebagai dasar pembentuk dalam kehidupan. Maka materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR.

Perlu di diketahui bahwa penyebutan elemen ini hanyalah sebagai simbol dan bukan merupakan urutan kejadian alam semesta. Dari simbol inilah yang nantinya akan digunakan untuk mengenali karakter hari.

Elemen hari

  • Minggu : Aditya = Planet Matahari
  • Senin : Soma = Planet Bulan
  • Selasa : Anggara = Planet Mars
  • Rabu : Budha = Planet Merkurius
  • Kamis : Respati = Planet Jupiter
  • Jumat : Sukra = Planet Venus
  • Sabtu : Saniskara = Planet Saturnus

Hari Tujuh (Dino Pitu)

Nama hari ini dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi adalah nama dari ke tujuh tersebut yaitu:

  • Radite (Minggu) melambangkan meneng atau diam.
  • Soma (Senin) melambangkan maju.
  • Hanggara (Selasa) melambangkan mundur.
  • Budha (Rabu) melambangkan mangiwa atau sebuah bergerak ke kiri.
  • Respati (Kamis) melambangkan manengen atau sebuah bergerak ke kanan.
  • Sukra (Jumat), melambangkan munggah atau naik ke atas.
  • Tumpak (Sabtu) melambangkan temurun atau bergerak turun.

Penanggalan Bulan

  • Pada tanggal pertama setiap bulan dalam bahasa Jawa, bulan terlihat sangat kecil – seperti goresannya, ini ditafsirkan sebagai bayi yang baru lahir, yang secara bertahap menjadi lebih besar dan lebih terang.
  • Hari keempat belas bulan Jawa disebut Badr Siddhi, dan bulan purnama yang melambangkan orang dewasa yang menikah dengan istrinya.
  • Tanggal 15 bulan Jawa disebut bulan purnama, dan bulan masih purnama, tetapi sudah ada tanda ukurannya dan sedikit penurunan cahaya.
  • Pada tanggal 20 bulan Jawa, yang disebut panglong, orang-orang mulai kehilangan ingatan mereka.
  • Pada tanggal 25 bulan di Jawa disebut sumur, orang mulai peduli dengan kehidupan mereka oleh orang lain seperti anak-anak.
  • Tanggal 26 di Jawa disebut Manjing, karena kehidupan manusia kembali ke tempat asalnya.

Sisa empat atau lima hari menandai waktu ketika Teja akan memulai lagi kehidupan dunia baru. Proses ini disebut siklus hidup cakramendangingan atau juga disebut herucakra.

Manusia yang saleh selalu mengikuti jalan yang diizinkan oleh Allah SWT bahwa seseorang akan menuntun pada pengetahuan sangkan paraning dumadi.

Hitungan Weton Jawa untuk Pernikahan

Kalender Jawa Weton

Kalender Jawa Weton

Dari jaman dahulu, kalender atau sistem berhitung dengan weton biasanya digunakan oleh orang Jawa. Tidak hanya sebagai bukti ulang tahun saja atau untuk menggambarkan sifat, kepribadian dan nasib siapa pun, tetapi juga dapat digunakan untuk menentukan periode penanaman dan panen, untuk memprediksi pasangan yang cocok, atau untuk memprediksi hari yang baik untuk tujuan tertentu.

Berbagai akun atau interpretasi Weton telah berakar dalam. Berbagai metode, formula, atau penilaian yang diyakini dari generasi ke generasi mencakup makna yang berfungsi sebagai pedoman atau peringatan bagi mereka yang meyakininya.

Weton Anda adalah campuran tujuh hari seminggu (Senin, Selasa, dll.) Dengan lima hari Pasar Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Siklus ini diulang setiap 35 (7 x 5) hari, jadi menurut perhitungan Jawa, ulang tahun Anda akan diulang setiap lima minggu, dan setiap ulang tahun memiliki efek sendiri dalam menentukan kepribadian, kepribadian, dan takdir Anda.

Urutan Bulan Jawa

Susunan nama bulan dalam kalender Jawa atau kalender Saka adalah sistem kalender seperti kalender Islam dan kalender Islam yang sudah ada dan dimulai pada 78 SM. Sistem kalender Jawa menggunakan sistem kalender komariah yang mirip dengan sistem kalender Hijriah.

Urutan Nama Bulan Jawa

Kalender Jawa ini didasarkan pada peristiwa alam dan pengamatan dari pengalaman hidup dari masyarakat selama bertahun-tahun. Setiap bulan dalam kalender Jawa juga mengandung sejumlah hari yang berbeda.

Didalam kalender penanggalan Jawa terdiri atas 12 bulan, diantaranya:

  1. Suro (30 hari)
  2. Sapar (29 hari)
  3. Mulud (30 hari)
  4. Bakda Mulud (29 hari)
  5. Jumadilawal (30 hari)
  6. Jumadilakhir (29 hari)
  7. Rejeb (30 hari)
  8. Ruwah (29 hari)
  9. Pasa (30 hari)
  10. Sawal (29 hari)
  11. Sela (30 hari)
  12. Besar (29 hari)

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah nama-nama bulan Jawa lengkap beserta arti dan maknanya.

  1. Sura

Bulan suro adalah sebuah bulan pertama dalam sistem penanggalan kalender Jawa. Bulan Sura memiliki jumlah hari pada bulan ini adalah 30 hari.

Bulan suro bertepatan dengan bulan Muharram pada kalender Islam. Nama surah itu sendiri diambil dari perayaan Asyura yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram pada sistem kalender untuk bulan Islam.

  1. Sapar

Urutan bulan jawa yang kedua adalah bulan Sapar. Dalam kalender Jawa bulan Sapar jumlah sebanyak 29 hari.

Bulan Sapar yang bertepatan dengan bulan perjalanan di kalender Islam. Nama Sapar juga diambil dari bulan Safar dalam sistem kalender Hijriah.

  1. Mulud

Urutan bulan ketiga Jawa yakni bulan Mulud. Bulan maulud memiliki jumlah hari sebanyak 30.

Bulan maulud bertepatan dengan bulan Rabi ‘al-Awwal dalam kalender Islam. Nama maulud ini berasal dari perayaan ulang tahun Nabi, yang jatuh pada awal musim semi di sistem kalender Hijriah.

  1. Bakda Mulud

Bakda Mulud adalah urutan bulan ke empat dalam sebuah penanggalan kalender Jawa. Bakda Mulud memiliki jumlah hari sebanyak 29 hari.

Bulan Bakda Mulud berketepatan dengan bulan Rabiul Akhir pada kalender Islam. Nama Bakda Mulud sendiri mempunyai makna “Setelah bulan Mulud”.

  1. Jumadilawal

Jumadilawal adalah bulan kelima dalam sistem kalender Jawa. Bulan ini memiliki 30 hari.

Bulan pertama Jumadil bertepatan dengan bulan awal Galilea pada kalender Islam. Sementara nama Jumadilawal juga diambil dari bulan Jumaadil Awal dalam sistem kalender Hijriah.

  1. Jumadilakhir

Urutan bulan jawa yang keenam adalah Jumadilakhir. Dalam kalender Jawa, bulan ini memiliki 29 hari.

Jumat terakhir bertepatan dengan akhir bulan pada kalender Islam. Nama Jadadilakhir diambil dari nama Jadadil bulan lalu dalam sistem kalender Hijriah.

  1. Rejeb

Rajab adalah bulan ketujuh dalam sistem kalender Jawa. Bulan ini memiliki 30 hari. Dalam masyarakat Jawa, bulan ini umumnya merupakan salah satu bulan terbaik untuk merayakan, misalnya pernikahan.

Bulan Rajab bertepatan dengan bulan Rajab pada kalender Islam. Nama “Rajab” berasal dari nama bulan Rajab dalam sistem kalender Hijriah.

  1. Ruwah

Urutan bulan Jawa berikutnya adalah Ruwah. Bulan ruwah ini sering disebutnya dengan bulan arwah atau bulan saban. Bulan ruwah ini berjumalah 29 hari.

Bulan al-Rawah bertepatan dengan bulan Sa`ban dalam kalender Islam. Nama “Ruwah” dimulai dengan Nifsu Syaban, yang merupakan amalan dari roh selama setahun yang dicatat pada bulan Sya’ban dalam sistem kalender Hijriah.

  1. Pasa

Bulan Pasa adalah urutan bulan kesembilan dalam sistem kalender Jawa. Pasa biasanya disebut “Poso”. Bulan Pasa memiliki jumlah 30 hari. Bulan ini juga disebut bulan puasa.

Bulan puasa yang bertepatan dengan bulan Ramadhan di kalender Islam. Nama Pasha berasal dari puasa yang harus dilakukan umat Islam selama bulan Ramadhan untuk sistem kalender Hijriah.

  1. Sawal

Memasuki bulan kesepuluh dari kalender Jawa, yaitu Sawal. Bulan Al-Sawal memiliki 29 hari.

Bulan ini bertepatan dengan bulan Syawal di kalender Islam. Nama Al-Syawal juga berasal dari nama Al-Syawal dalam sistem kalender Hijriah.

  1. Sela

Bulan yang sela adalah urutan Jawa kesebelas. Bulan ini juga sering disebut sebagai Dulkangidah atau bulan Apit. Bulan ini memiliki 30 hari.

Sela tersebut bertepatan dengan bulan Dqlaida dalam agenda kalender Islam. Nama sela tersebut berasal dari bahasa Sansekerta.

  1. Besar

Bulan terakhir atau bulan kedua belas dalam sistem kalender Jawa sangat penting. Bulan besar sering disebut dengan bulan Dulkahijjah. Bulan besar memiliki 29 hari atau 30 hari.

Bulan ini bertepatan dengan bulan Dzuhijah dalam kalender Islam. Nama “Besar” dikaitkan dengan Idul Adha dan ibadah haji yang dirayakan di bulan Dhu al-Hijjah pada sistem kalender Hijriah.

Dengan demikian, jumlah hari dalam satu tahun Jawa atau satu tahun Saka adalah 354 atau 355 hari.

+1001 Cara Mudah Memahami Aksara Jawa

Urutan Nama Bulan Islam di Kalender Hijriyah

Urutan Nama Bulan Islam di Kalender Hijriyah

Pada kalender Islam atau yang disebutnya dengan kalender Hijriyah, biasanya menggunakan sirkulasi bulan sebagai referensi.

Kalender Hijriah dilaksanakan pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn al-Khattab, yang memerintahkan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar dari sekitar 29 hingga 30 hari.

Dari Abu Bakar Nafi bin Al-Harith, Nabi, semoga doa dan damai Allah besertanya, mengatakan, “Zaman mungkin berputar seperti waktu di mana Tuhan menciptakan langit dan bumi, Sunnah memiliki 12 bulan, 4 di antaranya adalah bulan terlarang. Pada bulan yang tidak sah, tiga di antaranya berada dalam satu baris, dan semuanya ada Orang Bijaksana, Dhu al-Hijjah, Muharram, dan bulan Rajab lainnya antara Jamil Tasani dan Saban.

(Al Muttaffaqun ‘alaihi Al Bukhori 4662, Muslim 1679).

Berikut nama nama bulan Islam pada kalender Hijriyah:

  1. Muharram

Bulan ini diharamkan atau menjadi pantangan. Nama itu terlarang karena bulan ini melarang pertikaian atau pertumpahan darah. Larangan itu berlanjut sampai hingga sampai masa awal Islam.

  1. Shafar

Shafar berarti kosong. Nama Al Shafar, karena semua penduduk Arab bulan itu meninggalkan rumah untuk bermigrasi, berdagang dan bertempur, sehingga permukiman mereka kosong dari populasi laki-laki.

  1. Rabi’ul Awal

Rabi’ul awal berasal dari kata rabbi (menetap) dan awal (pertama). Hal Ini berarti bahwa pria yang meninggalkan rumah atau bermigrasi akan kembali, sehingga hal ini adalah waktu awal bagi pria untuk tinggal di rumah.

Pada bulan inilah sering terjadi peristiwa bersejarah bagi umat Islam, yaitu:

  • Nabi Muhammad SAW lahir
  • Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul
  • Nabi Muhammad SAW Hijrah
  • Nabi Muhammad SAW wafat
  1. Rabi’ul Akhir

Bulan keempat adalah Rabi’ul Akhir, yang berarti periode penyelesaian akhir dan akhir untuk pria Arab

  1. Jumadil Awal

Bulan berikutnya adalah Jumadil Awal. Nama bulan Jumadil Awal ini berasal dari kata Jumadi (kering) dan Awal (pertama). Itu bernama Jamil Awal karena bulan ini adalah awal musim kemarau, ketika kekeringan dimulai.

  1. Jumadil Akhir

Bulan keenam berikutnya adalah Jumadil Akhir, yang berarti musim kemarau telah berakhir.

  1. Rajab

Bulan Rajab memiliki makna yang mulia. Itulah disebutnya Rajab, karena orang Arab masa lalu dimuliakan pada bulan rajab ini, misalnya dengan melarang perang.

  1. Sya’ban

Bulan kedelapan adalah Saaban, yang berarti kelompok. Dinamai Sha’ban karena orang Arab bulan itu, secara umum, berkelompok untuk mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi saat itu adalah pergerakan arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah (baitullah).

  1. Ramadhan

Ramadhan memiliki makna yang sangat panas. Bulan ini membakar dosa, karena umat Islam bulan ini harus berpuasa selama sebulan.

Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang sering disebutkan dalam Al Qur’an, karena bulan ini memiliki keutamaan, kemurnian, dan kelebihan yang berbeda.

Peristiwa penting dalam Bulan Ramadhan antara lain:

  • Allah menurunkan ayat-ayat suci Al-Quran pertama kali dibumi.
  • Terciptanya malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah.
  • Bulan yang diwajibkan puasa bagi semua kaum mukmin.
  • Kaum mukmin mampu mengalahkan golongan kaun musryik dalam sebuah perang Badar kubra
  • Nabi Muhammad Saw, berhasil mengambil alih kota Mekah, serta menghilangakan penyembahan berhala yang dilakukan oleh golongan kaum musryik.
  1. Syawal

Bulan kesepuluh adalah Syawal, yang berarti kebahagiaan. Arti dari Syawal adalah agar orang kembali ke fitrah yang suci, karena setelah puasa, mereka membayar zakat dan saling memaafkan. Ini sangat bahagia.

  1. Dzulqo’dah

Bulan Dzikir berasal dari kata-kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Bulan ini disebut dzulqodah, karena bulan ini adalah waktu istirahat bagi lelaki Arab tua itu. Mereka menikmati dan menghabiskan waktu santai di rumah.

  1. Dzulhijjah

Bulan kedua belas atau terakhir adalah bulan Dzulhijjah. Bulan ini memiliki arti melakukan haji. Itulah disebutnya dengan Dzulhijjah, karena pada bulan ini umat Islam sejak zaman Nabi Adam AS. Ibadah haji telah ditunaikan.

Demikian pembahasan kali ini mengenai sistem penanggalan kalender jawa yang lengkap beserta penjelasan lainya. Semoga bermanfaat, Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan